Sabtu, 22 Januari 2011

LApoRAN PRAKTIKUM NUTRISI TANAMAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari biji), dibuat tepung (dari biji, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung biji dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi.

Kebutuhan akan konsumsi jagung di Indonesia terus meningkat. Hal ini didasarkan pada makin meningkatnya tingkat konsumsi perkapita per tahun dan semakin meningkatnya jumlah penduduk Indonesia. Jagung merupakan bahan dasar / bahan olahan untuk minyak goreng, tepung maizena, ethanol, asam organic, makanan kecil dan industri pakan ternak. Pakan ternak untuk unggas membutuhkan jagung sebagai komponen utama sebanyak 51, 4 %. Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif.

Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari keluarga rumput-rumputan. Berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan Afrika melalui kegiatan bisnis orang-orang Eropa ke Amerika. Sekitar abad ke-16 orang Portugal menyebarluaskannya ke Asia termasuk Indonesia. Orang Belanda menamakannya mais dan orang Inggris menamakannya corn.

Sekarang banyak para petani melirik untuk menam jenis jagung manis. Jagung manis (Zea mays L.) sering disebut pula sweet corn belum lama dikenal di Indonesia. Namun, Petani menghargai pupuk buatan karena efek yang cepat dan penggunaannya relatif mudah. Penggunaan pupuk buatan yang berlebihan dapat mengganggu kehidupan dan keseimbangan tanah, meningkatkan dekomposisi bahan organik, yang kemudian menyebabkan degradasi struktur tanah, kerentanan yang lebih tinggi terhadap kekeringan dan menurunnya hasil panen. Penggunaan pupuk N, P dan K yang terus-menerus menyebabkan penipisan unsur-unsur mikro dan aplikasi N yang tidak seimbang dari pupuk mineral nitrogen menyebabkan menurunnya pH tanah dan ketersediaan fosfor bagi tanaman. Namun demikian, dengan langsung mengganti alternatif non kimia belum tentu akan membuat pertanian lebih berkelanjutan, misalnya penggunaan pupuk kandang secara tidak bijaksana dapat mencemarkan tanah dan air permukaan seburuk pencemaran yang ditimbulkan oleh penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.

Berdasarkan uraian di atas pemberian Unsur hara atau nutrisi, baik yang bersumber dari bahan organik maupun pupuk buatan (anorganik) perlu dilakukan secara hati-hati dan bijaksana. Artinya adalah pemberian pupuk tidak semata-mata untuk mengejar pertumbuhan agar tanaman berproduksi secara maksimal, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek kualitas lingkungan dan lestarinya sumber daya alam dalam rangka mewujudkan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture).

1.2. Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk :

1. Untuk mengetahui pengaruh pemberian unsur hara makro N, P, K dan bahan organik terhadap pertumbuhan tanaman jagung

2. Untuk mengamati pertumbuhan dan perkembangan yang terlihat dari gejala defisiensi unsur hara pada tanaman jagung.

3. Untuk memenuhi syarat 1 SKS praktikum mata kuliah Nutrisi Tanaman.

1.3. Manfaat

Hasil praktikum ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa dan masyarakat, antara lain :

1. Pengembangan ilmu pengetahuan dibidang pertanian dalam hal pemberian unsur hara yang tepat pada tanaman jagung.

2. Peningkatan produksi tanaman jagung yang dapat merubah perekonomian masyarakat.

3. Meberikan informasi yang bermanfaat bagi banyak pihak.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Botani Tanaman Jagung Manis

Tanaman jagung manis termasuk dalam keluarga rumput-rumputan dengan spesies Zea mays L. Secara umum,klasifikasi dan morfologi dari tanaman jagung manis sebagai berikut:

Klasifikasi Tanaman

Kingdom : Plantae ( tumbuh-tumbuhan )

Divisi : Spermatophyta ( tumbuhan berbiji )

Subdivisi : Angiospermai ( berbiji tertutup )

Kelas : Monocotyledone ( berkeping satu )

Ordo : Graminae ( rumput-rumputan )

Famili : Graminaceae

Genus : Zea

Spesies : Zea mays saccarata

Morfologi Tanaman

Jagung merupakan tanaman berakar serabut yang terdiri dari tiga tipe akar, yaitu akar lateral, akar adventif, dan akar udara. Akar seminal tumbuh dari radikula dan embrio.akar adventif disebut juga akar tungang.akar ini tumbuh dari buku paling bawah,yaitu sekitar 4 cm dibawah, yaitu sekitar 4 cm dibawah permukaan tanah. Sementara akar udara adalah akar yang keluar dari dua atau lebih buku terbawah dekat permukaan tanah. Perkembangan akar jagung tergantung dari varietas, kesuburan tanah,faktor lingkungan dan keadaan air tanah.

Batang jagung tidak bercabang, berbentuk silinder,dan terdiri dari beberapa ruas dan buku ruas. Pada buku ruas akan muncul tunas yang berkembang menjadi tongkol. Tinggi batang jagung tergantung varietas dan tempat penanaman,umumnya berkisar 60 – 300 cm.

Daun jagung memanjang dan keluar dari buku-buku batang. Jumlah daun terdiri dari 8 – 12 helai tergantung varietasnya. Daun terdiri atas tiga bagian yaitu kelopak daun, lidah daun, dan helaian daun. Kelopak daun umumnya membungkus batang. Antara kelopak dan helaian daun terdapat lidah daun yang disebut ligula. Ligula ini berbulu dan berlemak.fungsi dari ligula adalah mencegah air masuk kedalam kelopak dan batang.

Bunga jagung tidak memiliki petal dan sepal sehingga disebut tidak lengkap. Bunga jagung juga termasuk bunga sempurna karena bunga jantan dan betina berada pada bunga yang berbeda. Bunga jantan terdapat pada ujung batang. Adapun bunga betina terdapat diketiak daun ke-6 atau ke-8 dari bunga jantan.

Penyerbukan pada jagung terjadi bila serbuk sari dari bunga jantan jatuh dan menempel pada rambut tongkol bunga betina. Pada jagung umumnya terjadi penyerbukan silang ( cross pollinated crop ). Penyerbukan terjadi dari serbuk sari tanaman lain. Sangat jarang terjadi penyerbukan yang serbuk sarinya bersal dari tanaman jagung itu sendiri.

Biji jagung tersusin rapi pada tongkol. Dalam satu tongkol terdapat 200 -400 biji. Biji jagung terdiri dari bagian, bagian paling luar disebut periscarp. Bagian atau lapisan kedua yaitu endosperm yang merupakan cadangan makanan biji, sementara bagian paling dalam yaitu embrio atau lembaga.

Karekteritis Jagung Manis

Dilihat dari penampilan fisiknya, tanaman jagung manis tidak berbeda dengan tanaman jagung normal,tetapi umumnya lebih pendek,batang dan tongkollebih kecil,lebih genjah, tassel berwarna putih kekuning-kuningan dan rambut kuning. Sifat penampilan yang demikian karena seleksi diarahkan pada ukuran tongkol yang disukai konsumen ( 4-5 tongkol /kg ) dan biji yang kuning bersih dari warna rambut yang coklat /merah.

Rasa lebih manis pada jagung manis disebabkan tingginya kadar gula pada endosperm ( 5 – 6 % ) jika dibandingkan dengan jagung biasa ( 2 – 3 % ). Kadar pati sekitar 10- 11 % dan kadar air sekitar 70 %.

Bila dipanen kering biji jagung manis keriput dan ringan sekali ( 100 biji jagung Arjuna ± 27 g, 100 biji jagung manis ( 10 g ).ini yang menyebabkan keperluan benih persatuan luas jauh lebih rendah dibandingkan jagung normal. Bila jagung normalperlu 15 – 20 kg/ha,maka jagung manis cukup 5 – 6 kg/ha.

Syarat Tumbuh Jagung (Zea Mays L.)

Tanaman jagung mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap tanah, baik jenis tanah lempung berpasir maupun tanah lempung dengan pH tanah 6 -8. Temperatur untuk pertumbuhan optimal jagung antara 24-30 °C. Tanaman jagung pacta masa pertumbuhan membutuhkan 45-60 cm air. Ketersediaan air dapat ditingkatkan dengan pemberian pupuk buatan yang cukup untuk meningkatkan pertumbuhan akar, kerapatan tanaman serta untuk melindungi dari rumput liar dan serangan hama.

Jagung ini kebanyakan ditanam di dataran rendah baik, sawah tadah hujan maupun sawah irigasi. Sebahagian terdapat juga di daerah pergunungan pada ketinggian 1000- 1800 m di atas permukaan laut.

a. Tanah

Tanah yang dikehendaki adalah gembur dan subur, kerana tanaman jagung memerlukan aerasi dan pengairan yang baik. Jagung dapat tumbuh baik pada berbagai macam tanah. Tanah lempung berdebu adalah yang paling baik bagi pertumbuhannya. Tanah-tanah berat masih dapat ditanami jagung dengan pengerjaan tanah lebih sering selama pertumbuhannya, sehingga aerasi dalam tanah berlangsung dengan baik.

Air tanah yang berlebihan dibuang melalui saluran pengairan yang dibuat diantara barisan jagung. Kemasaman tanah (pH) yang terbaik untuk jagung adalah sekittir 5,5 – 7,0. Tanah dengan kemiringan tidak lebih dari 8% masih dapat ditanami jagung dengan arah barisan tegak lurus terhadap miringnya tanah, dengan maksud untuk mencegah keganasan erosi yang terjadi pada waktu turun hujan besar,

b. Iklim

Faktor-faktor iklim yang terpenting adalah jumlah dan pembagian dari sinar matahari dan curah hujan, temperatur, kelembaban dan angin. Tempat penanaman jagung harus mendapatkan sinar matahari cukup dan jangan terlindung oleh pohon-Pohonan atau bangunan. Bila tidak terdapat penyinaran dari matahari, hasilnya akan berkurang. Temperatur optimum untuk pertumbuhan jagung adalah antara 23 – 27 C.

2.2. Peran Unsur Hara bagi pertumbuhan Tanaman Jagung Manis

Setiap mahkluk hidup pasti membutuhkan nutrien sebagai sumber energi pertumbuhan, demikian pula halnya dengan tanaman. Untuk dapat hidup dan berkembang secara baik setiap harinya tanaman membutuhkan bahan nutrisi berupa unsur hara yang dapat dikonsumsi.

Setiap jenis unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman, tentunya memiliki fungsi, kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dalam memberikan unsur hara pada tanaman tentunya sangat penting dijaga keseimbangan dan pengaturan kadar pemberian unsur hara tersebut, sebab jika kelebihan dalam pemberiannya akan tidak baik dampaknya, demikian pula halnya jika yang diberikan tersebut kurang dari takaran yang semestinya diberikan.

Beberapa Unsur Hara Yang Dibutuhkan Tanaman : Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Belerang (S), Besi (Fe), Mangan (Mn), Boron (B), Mo, Tembaga (Cu), Seng (Zn) dan Klor (Cl). Unsur hara tersebut tergolong unsur hara Essensial.

Berdasarkan jumlah kebutuhannya bagi tanaman, dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

ü Unsur Hara Makro, yaitu unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah besar.

ü Unsur Hara Mikro, yaitu unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah kecil.

Unsur hara makro meliputi : N, P, K, Ca, Mg, dan S. Sedangkan unsur hara mikro meliputi : Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn, dan Cl.

2.2.1. Bahan Organik

Bahan organik merupakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air. Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan organik demikian berada dalam pelapukan aktif dan menjadi mangsa serangan jasad mikro. Sebagai akibatnya bahan tersebut berubah terus dan tidak mantap sehingga harus selalu diperbaharui melalui penambahan sisa-sisa tanaman atau binatang.

Sumber primer bahan organik adalah jaringan tanaman berupa akar, batang, ranting, daun, dan buah. Bahan organik dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis sehingga unsur karbon merupakan penyusun utama dari bahan organik tersebut. Unsur karbon ini berada dalam bentuk senyawa-senyawa polisakarida, seperti selulosa, hemiselulosa, pati, dan bahan- bahan pektin dan lignin. Selain itu nitrogen merupakan unsur yang paling banyak terakumulasi dalam bahan organik karena merupakan unsur yang penting dalam sel mikroba yang terlibat dalam proses perombakan bahan organik tanah. Jaringan tanaman ini akan mengalami dekomposisi dan akan terangkut ke lapisan bawah serta diinkorporasikan dengan tanah. Tumbuhan tidak saja sumber bahan organik, tetapi sumber bahan organik dari seluruh makhluk hidup.

Sumber sekunder bahan organik adalah fauna. Fauna terlebih dahulu harus menggunakan bahan organik tanaman setelah itu barulah menyumbangkan pula bahan organik. Bahan organik tanah selain dapat berasal dari jaringan asli juga dapat berasal dari bagian batuan.

Salah satu jenis pupuk organik adalah pupuk kandang. Menurut Syekhfani (2000) bahwa pupuk kandang memiliki sifat yang alami dan tidak merusak tanah, menyediakan unsur makro (nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, dan belerang) dan mikro (besi, seng, boron, kobalt, dan molibdenium). Selain itu pupuk kandang berfungsi untuk meningkatkan daya menahan air, aktivitas mikrobiologi tanah, nilai kapasitas tukar kation dan memperbaiki struktur tanah. Menurut Setiawan (2002) pengaruh pemberian pupuk kandang secara tidak langsung memudahkan tanah untuk menyerap air. Pemberian bahan organik berupa pupuk kandang meningkatkan kesuburan tanah.


2.2.1.1. Pupuk Kandang Ayam

Definisi kotoran ayam

Menurut Lukman Ali dalam kamus besar bahasa indonesia, (1991:394) k otoran ayam merupakan kotoran yang di keluarkan oleh ayam sebagai proses makanan yang disertai urine dan sisa-sisa makanan lainya.

Manfaat Kotoran Ayam

Menurut Drs.Agus Widodo, (2008:05) kotoran ayam atau bahan organik merupakan sumber nitrogen tanah yang utama, serta berperan cukup besar dalam memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologis tanah serta lingkungan. Di dalam tanah, pupuk organik akan dirombak oleh organisme menjadi humus atau bahan organik tanah.

Bahan organik berfungsi sebagai “pengikat” butiran primer tanah menjadi butiran sekunder dalam pembentukan agregat yang mantap. Keadaan ini berpengaruh besar pada porositas, penyimpanan dan penyediaan air serta aerasi dan temperatur tanah. Bahan organik dengan C/N tinggi seperti jerami dan sekam memberikan pengaruh yang lebih besar pada perubahan sifat-sifat fisik tanah dibanding bahan organik yang telah terdekomposisi seperti kompos.

Meskipun mengandung unsur hara yang rendah, kotoran ayam penting dalam:
1. menyediakan hara makro dan mikro seperti Zn, Cu, Mo, Co, Ca, Mg, dan Si,
2.meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah, serta
3.dapat bereaksi dengan ion logam untuk membentuk senyawa kompleks, sehingga ion logam yang meracuni tanaman atau menghambat penyediaan hara seperti Al, Fe dan Mn dapat dikurangi.


Kandungan Kotoran Ayam

Menurut Ir. Aryanto Haesono, (2009:01) kandungan kotoran ayam adalah sebagai berikut: 2.79 % N, 0.52 % P2O5, 2.29 % K2O. Maka dalam 1000 kg (1 ton) kompos akan setara dengan 62 kg Urea, 14.44 kg SP 36, dan 38.17 kg MOP. Cara menghitungnya sebagai berikut:

Hara N = (%N Kompos x 1000 kg)/%N Urea = (2.79% x 1000 kg)/45% = 62 kg Hara P= (%P2O5 kompos x 1000 kg)/%P2O5 SP-36 = (0.52% x 1000 kg)/36% = 14.44 kg Hara K= (%K2O kompos x 1000 kg)/%K2O MPO = (2.29% x 1000 kg)/60% = 38.17 kg

Hubungan antara kotoran ayam dengan pertumbuhan jagung
Menurut Dr.Ariyanto Harsono spAK (2009:02)kotoran ayam dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk berbagai komoditas tanaman.salah satunya adalah tanaman jagung karena dapat merangsang pertumbuhan tanaman jagung serta menambah kesuburan tanah yang akan berdampak pada kesuburan tanaman itu sendiri.

2.2.2. Nitrogen (N)

Fenomena alam, menyatakan bahwa atmosfir terdiri dari 79% Nitrogen (berdasarkan volume) sebagai gas padat N2. Namun meskipun demikian, penyediaan makanan untuk kehidupan manusia dan hewan-hewan lainnya lebih dibatasi oleh nitrogen daripada unsur-unsur lainnya. Sebagai gas padat, N2 tidak bereaksi dengan unsur-unsur lainnya untuk menghasilkan suatu bentuk nitrogen yang dapat digunakan oleh sebagian besar tanaman.

Nitrogen merupakan elemen hara yang penting bagi pertumbuhan tanaman. Sumber utama Nitrogen di dalam tanah yaitu bahan organik tanah. Selain dari bahan organik tanah Nitrogen juga diperoleh dari gas N2 di atmosfer melalui penambatan atau fiksasi Nitrogen. Penambatan alami disebabkan oleh jasad-jasad renik (terutama bakteri dalam tanah dan alga di air) dan gejala atmosfer tertentu, termasuk kilat.

Nitrogen terdapat di dalam tanah dalam bentuk organik dan anorganik. Bentuk-bentuk organik meliputi NH4+, NO3-, NO2-, NO2, NO dan unsur N. Juga terdapat bentuk lain yaitu hidroksi amin (NH2OH), tetapi bentuk ini merupakan bentuk antara, yaitu bentuk peralihan dari NH4+, menjadi NO2- dan bentuk ini tidak stabil (Hakim, dkk,1991).

Bentuk Nitrogen yang dapat digunakan oleh tanaman adalah ion nitrat (NO3-) dan ion amonium (NH4+). Ion-ion ini kemudian membentuk material kompleks seperti asam-asam amino dan asam-asam nukleat yang dapat langsung diserap dan digunakan oleh tanaman tingkat tinggi. Menurut Mengel dan Kirby (1987) dalam Rosmarkam dan Yuwono (2002) pada pH tanah yang rendah ion nitrat lebih cepat diserap oleh tanaman dibandingkan ion amonium, pada pH tanah yang tinggi ion Amonium diserap oleh tanaman lebih cepat dibandingkan ion nitrat dan pada pH netral kemungkinan penyerapan keduanya berlangsung seimbang.

Peranan unsur hara nitrogen (N) bagi tanaman adalah sebagai berikut :

a) Penyusun Purin, Alkohid, Enzym, Zat Pengatur Tumbuh, Klorofil, Membran sel

b) Merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan

c) Merupakan bagian dari sel ( organ ) tanaman itu sendiri

d) Berfungsi untuk sintesa asam amino dan protein dalam tanaman

e) Merangsang pertumbuhan vegetatif ( warna hijau ) seperti daun

Tanaman yang kekurangan unsur N gejalanya : pertumbuhan lambat/kerdil, daun hijau kekuningan, daun sempit, pendek dan tegak, daun-daun tua cepat menguning dan mati. Klorosis di daun tua dan semakin parah akan terjadi juga pada daun muda.

2.2.3. Posfor (P)

Fosfor terdapat dalam bentuk phitin, nuklein dan fosfatide, merupakan bagian dari protoplasma dan inti sel. Sebagai bagian dari inti sel sangat penting dalam pembelahan sel, demikian pula bagi perkembangan jaringan meristem. Fosfor diambil tanaman dalam bentuk H2PO4- dan HPO4- (Sutedjo, 1999).

Menurut Nyakpa, Lubis, Puling, Amrah, Munawar, Hong dan Hakim (1988) P sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman, karena P banyak terdapat didalam sel tanaman berupa unit – unit nukleotida, sedangkan nukleotida merupakan suatu ikatan yang mengandung P sebagai penyusun RNA dan DNA yang berperan dalam sel tanaman.

Menurut Indranada (1989) P merupakan bagian integral tanaman pada bagian penyimpanan energi. P terlihat pada penangkapan energi cahaya matahari yang mengenai molekul klorofil energi tersebut yang tersimpan dalam bentuk ATP dan ADP maka, energi dapat dipakai untuk menjalankan reaksi – reaksi yang memerlukan energi seperti pembentukan sukrosa, tepung dan protein.

Unsur hara P berperan dalam merangsang pertumbuhan dan perkembangan akar, sebagai bahan dasar protein (ATP dan ADP), membantu asimilasi dan respirasi, mempercepat proses pembungaan dan pembuahan, serta pemasakan biji dan buah. Gejala kekurangan unsur hara P pada tanaman adalah daun berubah warna menjadi tua atau tampak mengkilap kemerahan, tepi daun, cabang dan batang berwarna merah ungu kemudian berubah menjadi kuning, buah kecil dan cepat matang (Marsono dan Sigit, 2001).

Pemupukan P pada suatu batas tertentu akan memberikan hasil yang meningkat, akan tetapi pemberian yang melampaui batas optimum sering tidak berhasil memberikan respon yang nyata (Supardi, 1983). Menurut Tisdale dan Nelson (1975) pemberian P yang berlebihan dapat mengakibatkan tanaman menjadi kerdil, klorosis dan bentuk daun tidak normal.

Fosfor dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori berdasarkan kelarutannya yaitu P yang dapat larut dalam air, P yang larut dalam asam sitrat dan P yang tidak larut dalam asam sitrat. P yang larut dalam air P2O5 nya mudah tersedia bagi tanaman, P yang larut dalam asam sitrat P2O5 larut berangsur – angsur sehingga baik untuk tanaman yang tumbuh lambat, sedangkan P yang tidak larut dalam asam sitrat lambat tersedia bagi tanaman (Nyakpa, dkk, 1988).

2.2.4. Kalium (K)

Kalium (K) merupakan unsur hara utama ketiga setelah N dan P. Kalium mempunyai valensi satu dan diserap dalam bentuk ion K+. Kalium tergolong unsur yang mobil dalam tanaman baik dalam sel, dalam jaringan tanaman, maupun dalam xylem dan floem. Kalium banyak terdapat dalam sitoplasma. Kalium pupuk buatan dan mineral-mineral tanah seperti feldspar, mika dan lain-lain.

Secara umum fungsi Kalium bagi tanaman, antara lain :

§ Membentuk dan mengangkut karbohidrat,

  • Sebagai katalisator dalam pembentukan protein
  • Mengatur kegiatan berbagai unsur mineral
  • Menetralkan reaksi dalam sel terutama dari asam organik
  • Menaikan pertumbuhan jaringan meristem
  • Mengatur pergerakan stomata
  • Memperkuat tegaknya batang sehingga tanaman tidak mudah roboh
  • Mengaktifkan enzim baik langsung maupun tidak langsung
  • Meningkatkan kadar karbohidrat dan gula dalam buah
  • Membuat biji tanaman menjadi lebih berisi dan padat
  • Meningkatkan kualitas buah karena bentuk, kadar, dan warna yang lebih baik
  • Membuat tanaman menjadi lebih tahan terhadap hama dan penyakit
  • Membantu perkembangan akar tanaman.
  • Berpen dalam proses fotosintesis dan respirasi

Kekurangan kalium pada tanaman menyebabkan turgor tanaman menjadi berkurang sehingga sel tanaman menjadi lemah.


BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum mata kuliah Nutrisi Tanaman ini dilaksanakan setiap hari Jum’at mulai dari tanggal 30 Oktober 2010 sampai dengan 31 Desember 2010 pada pukul 10.00 – 11.30 WIB yang bertempat di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian , disebelah rumah kaca ,Universitas Jambi.

3.2. Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cangkul, parang, gembor, meteran/penggaris, dan alat tulis. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah benih jagung manis, tanah ultisol, polybag ukuran 5 kg, pupuk urea, TSP, dan KCl, serta pupuk kandang ayam sebagai bahan organik.

3.3. Rancangan Percobaan

Rancangan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 10 kelompok. Perlakuan yang diberikan adalah :

1. NPK + BO = diberi pupuk NPK dan bahan organic

2. NP = hanya diberi pupuk N dan pupuk P

3. NK = hanya diberi pupuk N dan pupuk K

4. PK = hanya diberi pupuk P dan pupuk K

5. –NPK = tidak diberi pupuk sama sekali (control)

3.4. Pelaksanaan

3.4.1. Persiapan Media

Pembersihan lahan sebagai tempat meletakkan media tanam dilakukan pada tanggal 30 Oktober 2010, dengan membersihkan lahan yang akan dikelola dari rerumputan dan kotoran yang lain.

Setelah itu dilakukan pengisian media tanam yang menggunakan tanah ultisol ke dalam polybag ukuran 15 X 20 yang kualitas polybeagnya 5 kg sampai penuh sebanyak lima polybag masing-masing kelompok . Setelah semua polybag terisi penuh dengan tanah ultisol , masing-masing polybag diberi perlakuan yang berbeda-beda, yaitu diberi pupuk NPK dan bahan organic kotoran ayam yang sudah terdekoponsisi dengan migroorganisme yang terdapat dalam tanah, pupuk NP, pupuk NK, pupuk PK, dan tanpa diberi pupuk (–NPK). Pemberian pupuk dilakukan dengan cara ditaburkan melingkar dengan jarak 5-7 cm dari tanaman utama, ditepi polybag sebanyak satu tutup botol air mineral untuk masing-masing pupuk.

3.4.2. Penanaman

Setelah semua media siap, maka dilakukan penanaman benih jagung manis pada masing-masing media. Penanaman dilakukan pada saat itu juga, yakni pada tanggal 30 Oktober 2010 dengan menanam 3 benih jagung pada masing-masing polybag.

Sebelumnya sebelum kami melakukan penanaman jagung , yang pertama kali kami tanam adalah tanaman kedelai, tetapi setelah 2-3 hari tanaman kami tadi sudah terserang hama. Maka dari itu bapak irianto menyarankan kami untuk merubah komuniti tanaman kedelai menjadi tanaman jagung.

3.4.3. Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman, Penyulaman dan pengendalian terhadap gulma disekitar tanaman jagung, serta membersihkan semua gulma yang ada pada disekitar lingkaran lahan yang kami tanaman polybag tanaman jagung.

Penyulaman dilakukan setelah tanaman berumur 1 minggu atau pada tanggal 5 November 2010 dengan meninggalkan 1 tanaman per polybag.

Penyiraman disesuaikan dengan kondisi curah hujan yang terjadi pada saat penanaman. Karena pada saat penanaman, seringnya turun hujan dalam frekuensi yang sering dan volume yang banyak maka penyiraman jarang dilakukan. Namun tetap saja dilakukan jika hari tidak hujan.

Pengendalian gulma disekitar polybag dilakukan setiap minggunya atau dilakukan pencabutan gulma secara manual hingga tanaman memasuki fase generatif.


3.5. Variabel yang Diamati

3.5.1. Tinggi tanaman

Pengamatan tinggi tanaman dilakukan setiap minggunya. Mulai dari minggu kedua HTS sampai tanaman memasuki fase generatif. Untuk membantu pengukuran, digunakan patokan dari ajir yang memiliki kedalaman 2 cm , dengan memakai dan pengukuran dilakukan dengan menggunakan meteran 3 M.

3.5.2. Jumlah daun

Pengamatan jumlah daun dilakukan dengan menghitung semua daun yang sudah terbuka sempurna, baik yang masih hijau maupun yang sudah mati (gugur). Pengamatan dilakukan setiap minggunya mulai dari minggu kedua setelah HTS memasuki fase generatif.

3.5.3. Total luas daun

Pengamatan total luas daun dilakukan dengan mengukur panjang dan lebar daun yang sudah terbuka sempurna dan masih berwarna hijau. Luas daun dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Luas daun = panjang × lebar × Konstanta

dimana, Konstanta (K) luas daun tanaman jagung adalah 0,75.

Setelah itu luas daun pada setiap tanaman dijumlahkan sehingga didapatkan total luas daun per tanaman.

3.5.4. Penampakan visual

Selain pengamatan kuantitas seperti di atas, pengamatan kualitas juga dilakukan dengan melihat penampakan visual pada tanaman jagung. Penampakan visual yang diamati adalah penampakan gejala-gejala defisiensi unsur hara pada masing –masing perlakuab pada tanaman tersebut.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

4.1.1. Tinggi tanaman

Tabel 1. Pengamatan tinggi tanaman jagung (cm)

Perlakuan

Minggu Ke-

1

2

3

4

5

6

7

NP

24

38,1

69

110

138

150

162

PK

29

38

74

114

147

166

251

NK

22

69

69

108

136

161

192

NPK+BO

32

79

64

111

129

138

149

– NPK

34

46,5

78

110

134

150

180

4.1.2. Jumlah daun

Tabel 2. Pengamatan jumlah daun tanaman jagung (helai)

Perlakuan

Minggu Ke-

1

2

3

4

5

6

7

NP

2

4

6

7

10

13

16

PK

2

4

5

7

8

12

16

NK

2

4

6

8

8

10

15

NPK+BO


4

6

6

8

11

15

– NPK

2

5

6

6

10

15

16


4.1.3. Total luas daun

Tabel 3. Pengamatan total luas daun tanaman jagung (cm2)

Perlakuan

Minggu Ke-

1

2

3

4

5

6

7

NP

20.92

106

596.4

1203.91

2691.68

3811.66

4694.51

PK

19.5

119

445.8

1037.41

2187.38

3418.89

3587.92

NK

24.49

138.6

512

1339.73

1524.75

2079.83

4100.27

NPK+BO

18.71

135.2

439.9

1054.28

2202.38

3119.55

3802.88

– NPK

17.74

131.9

605

776.1

2227.43

2297.86

3013.81

4.1.4. Penampakan visual

1.Perlakuan NP

Pada pengamatan minggu pertama ini tanaman tidak memperlihatkan efesiensi atau gejala yang tampak oleh kekuranagan unsure hara, pada minggu kedua daun pertama mulai menguning pada ujung daun serta terdapat bintik-bintik putih pada permukaan daun. Pada minggu ketiga daun pertama sudah layu, sedangkan daun kedua terdapat bintik-bintik kuning pada ujung daun, dan daun ketiga terdapat bintik putih pada permukaan daun. Pada minggu keempat dau pertama dan daun kedua sudah layu, sedangkan daun ketiga terdapat bintik-bintik karat, ujungnya terdapat kuning kecoklatan , serta tengah daunnya terdapat biktik putih, daun seluruhnya berwarna Pucat. Dan pada minggu ke kelima daun keempat dan daun kelima terdapat bercak-bercak kasar. Sedangkan diantara tengah daun kelima terdapat bercak-bercak kuning. Pada mingggu keenam daun 1 sampai keempat sudah layu, Sedangkan daun 5 dan 6 patah,serta daun ke -8 terdapat lobang pada permukaan daun. Dan pada minggu terakhir daun ketujuh terdapat bercak-bercak seperti karat.dan pada daun kedelapan terdapat lubang pada permukaan daun, tanaman keseluruhan berwarna hijau tua. Pada saat minggu ini tanaman sudah mengeluarkan tongkol.

2. Perlakuan NK

Pada minggu pertama tanaman belum memperlihatkan gejala efesiensi terhadap unsure hara. Sedangkan pada minggu ke dua ,daun pertama menguning, tepi daun ketiga terdapat bintik-bintik kuning. Pada minggu selanjutnya daun pertama terdapat bintik-bintik kuning pada ujung daun , sedangkan daun kedua hampir sama dengan daun pertama serta daun ketiga, sedangkan minggu keempat daun pertama layu , daun kedua separuh permukaan daun menguning. Daun ketiga menguning , dan batang pada bagian ujung agak pucat.sedangkan pada minggu kelima efesiensinya sama seperti minggu keempat. Sedangkan minnngu selanjutnya daun pertama dan keempat sudah layu, daun kelima patah , sedangka daun keenam terdapat lobang pada permukaan daun, dan daun ketujuh dan kedelapan terdapat bercak-bercak kuning pada tengah daun. Sedangkan mingggu terakhir terdapat daun ketujuh mengalami bagian ujungnya menguning sedangkan daun kedelapan terdapat bintik-bintik kuning dan terdapat lobang pada permukaan daun, warna keseluruhan daun pucat, pada minggu ini polong baru muncul.

3. Perlakuan PK

Pada minggu ini tanaman baru menampakkan efesiensi terhadap kekurangan unsure hara pada minggu ke dua, daun pertama menguning sedangkan pada daun ketiga terdapat bintik-bintik kuning. Sedangkan pada minggu selanjutnya daun pertama dan kedua , ketiga terdapat bintk-bintik kuning pada ujung daun.

Sedangkan pada minggu keempat daun ketiga menguning dan pada ujung daunnya menggulung, sedangkan daun keempat dan daun kelima daun patah dan tengahnya ujung menguning, pada minggu selanjutnya daun 1-6 layu, batang tanaman keseluruhan berwarna kuning muda. Pada minggu selanjutnya tanamn sudah mengeluarkan tongkol.

4. Perlakuan NPK+BO

Pada mingggu kedua daun pertama terdapat bintik-bintik putih pada permukaan daun, sedangkan pada daun kedua terdapat bintik-bintik putih pada permukaan daun, dan daun ketiga terdapat sedikit bintik-bintik putihnya. Sedangkan minggu selanjutnya daun perama sampai ketiga terdapat bintik-bintik kuning pada ujung daun, sedangkan pada daun keempat terdapat bintik-bintik putih pada tengah daun. Pada minggu selanjutnya semua daun hampir sama dengan minggu sebelumnya , dan pada daun keempat patah, warna keseluruhan tanaman normal. Pada minggu terakhir pada daun kedelapan tepi daun menguning.tanaman sudah mengeluarkan tongkol

5. Perlakuan -NPK

Pada minggu pertama daun pertama terdapat bercaj-bercak kuning pada ujung daun, sedangkan daun kedua terdapat garis-garis putih pada permukaan daun., sedangkan minggu kedua daun pertama sudah layu, daun kedua terdapat bintik-bintik putih pada tengah daun. Dan pada minggu ketiga daun 1-2 layu. Sedangkan daun kelima patah, dan daun keempat terdapat bercak-bercak kasar. Sedangkan minggu terakhir daun 7 terdapat bintik-bintik kuning , serta terdapat warna putih pada tengah-tengah daun, sedangkan daun kesepuluh terdapat lobang pada permukaan daun, batang berwarna hijau , tanaman sudah mengeluarkan 2 tongkol.


4.2. Pembahasan

4.2.1. Pengamatan pertumbuhan tanaman jagung

Gambar 1. Kurva pengamatan tinggi tanaman jagung

Flowchart: Card: T I N G G  I    (cm)


Kurva tersebut merupakan kurva pengamatan tinggi tanaman jagung yang diberi perlakuan pupuk berdasarkan data pada tabel 1. Dari kurva di atas, terlihat bahwa tinggi tanaman jagung terus bertambah setiap minggunya. Pertambahan tinggi tanaman tersebut membentuk kurva sigmoid yang berbentuk huruf S. Dan terlihat perlakuan pupuk PK memberikan potensi pertumbuhan terbaik yang ditandai dengan tanamannya yang paling tinggi. Dan potensi pertumbuhan terendah ditunjukkan oleh tanaman dengan perlakuan –NPK dikarnakan didalamkandungan tanah ultisol ini miskin akan unsure hara.


Gambar 2. Kurva pengamatan jumlah daun tanaman jagung

Flowchart: Card: T I N G G  I    (cm)


Kurva di atas merupakan kurva pengamatan jumlah daun tanaman jagung yang diberi perlakuan pupuk berdasarkan data pada tabel 2. . Dari kurva tersebut dapat dilihat bahwa jumlah daun pada tanaman jagung terus bertambah secara nyata (significant) dari minggu ke minggu. Dan sampai pengamatan terakhir, tanaman jagung dengan perlakuan pupuk NP menunjukkan potensi terbaik pada pertambahan jumlah daunnya. Pertambahan jumlah daun dalam hal ini dinilai sangat penting karena daun berperan sebagai tempat berlangsungnya proses fotosintesis yang dapat menghasilkan gula sebagai bahan baku untuk melakukan pertumbuhan tanaman jagung tersebut. Dan dengan pertambahan jumlah daun yang signifikan akan mempengaruhi laju pertumbuhan pada bagian yang lain juga. Serta tanaman yang diberi perlakuan –NPK menunjukkan pada minggu terakhir akan menurun peningkatan jumlah daunya.


Gambar 3. Kurva pengamatan total luas daun

Flowchart: Card: T I N G G  I    (cm)


Kurva di atas merupakan kurva pengamatan total luas daun pada tanaman jagung yang diberi perlakuan pupuk berdasarkan data pada tabel 3. Luas daun berhubungan baik dengan jumlah daun pada tanaman jagung. Dengan bertambahnya jumlah daun pada tanaman, maka otomatis luas daunnya juga bertambah. Hal ini mempengaruhi proses fotosintesis tanaman sehingga berpengaruh pula pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Semakin luas area permukaan daun, maka intensitas cahaya matahari yang dapat diserap tanaman semakin banyak pula. Dari kurva di atas terlihat tanaman jagung dengan perlakuan pupuk NP memiliki total luas daun yang tertingi, sehingga tanaman tersebut berpotensi paling baik dalam pertumbuhannya, karana tanama jagung ini merupakan tanaman C4 harus banyak menerima intensitas matahari.


4.2.2. Analisis data

Untuk melihat perlakuan yang diamati, data hasil pengamatan dianalisis secara statistik dengan menggunakan sidik ragam dan untuk melihat perbedaan antar perlakuan diuji dengan menggunakan uji BNT pada taraf 5 %. Dari analisis ragam yang dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 4. Analisis ragam tinggi tanaman jagung

SK

DB

JK

KT

F hitung

F 0,5

Kelompok

9

5.840,87

648,99

1,25ns

2,16

Perlakuan

4

7.638,87

1.909,72

3,69*

2,64

Galat

36

18.636,25

517,67



Total

49

32.116,00




Keterangan : ns = nonsignificant (tidak berbeda nyata)

* = significant (berbeda nyata)

Koefisien Keragaman (KK) = 16,96 %

BNT(α=0,05) = 20,65

Dari hasil analisis di atas, terlihat bahwa tinggi tanaman jagung yang diukur tidak berbeda nyata (nonsignificant) terhadap kelompok (Fhitungsignificant) terhadap perlakuan yang diberikan (Fhitung>Ftabel 5%). Sumbangan perlakuan terhadap tinggi tanaman sebesar 83,04%, sedangkan sisanya 16,96% adalah error penelitian. Dari hasil analisis ragam tersebut dapat dilanjutkan dengan uji BNT dengan taraf 5 % yang menghasilkan nilai BNT0.05 = 20,65.


Tabel 5. Analisis ragam jumlah daun tanaman jagung

SK

DB

JK

KT

F hitung

F 0,5

Kelompok

9

188,82

20,98

6,94**

2,16

Perlakuan

4

30,32

7,58

2,51ns

2,64

Galat

36

108,88

3,02



Total

49

328,02




Keterangan : ns = nonsignificant (tidak berbeda nyata)

** = highly significant (berbeda sangat nyata)

Koefisien Keragaman (KK) = 19,63 %

BNT(α=0,05) = 1,58

Dari hasil analisis di atas, terlihat bahwa jumlah daun tanaman jagung yang dihitung berbeda sangat nyata (highly significant) terhadap kelompok (Fhitung>Ftabel 1%). Namun, perlakuan yang diberikan tidak mempengaruhi atau tidak berbeda nyata (nonsignificant) terhadap jumlah daun. Sumbangan perlakuan terhadap jumlah daun tanaman sebesar 80,37%, sedangkan sisanya 19,63% adalah error penelitian. Dari hasil analisis ragam tersebut dapat dilanjutkan dengan uji

BNT dengan taraf 5 % yang menghasilkan nilai BNT0.05 = 1,58.

SK

DB

JK

KT

F hitung

F 0,5

Kelompok

9

49.389.144

5.487.682,5

6.72**

2,16

Perlakuan

4

18.685.914

4.671.478,5

5.72**

2,64

Galat

36

29.385.774

816.271,5



Total

49

97.460.832




Tabel 6. Analisis ragam total luas daun tanaman jagung

Keterangan : ** = highly significant (berbeda sangat nyata)

Koefisien Keragaman (KK) = 42,21 %

BNT(α=0,05) = 819,97

Dari hasil analisis di atas, terlihat bahwa total luas daun tanaman jagung yang dihitung berbeda sangat nyata (highly significant) terhadap kelompok maupun perlakuan yang diberikan (Fhitung>Ftabel 1%). Sumbangan perlakuan terhadap jumlah daun tanaman sebesar 57,79%, sedangkan sisanya 42,21% adalah error penelitian. Dari hasil analisis ragam tersebut dapat dilanjutkan dengan uji BNT dengan taraf 5 % yang menghasilkan nilai BNT0.05 = 819,97.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1.Kesimpulan

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar peranan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays) dan juga untuk melihat gejala-gejala defisiensi unsur hara pada tanaman jagung.Dari masing-masing perlakuan Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa :

a. Unsur hara esensial khususnya unsur hara makro seperti N, P, dan K serta bahan organik ternyata berperan penting bagi pertumbuhan tanaman jagung karena sebagai (nutrien) bagi tanaman itu sendiri untuk proses metabolisme.

b. Tanaman yang kekurangan unsur hara akan menunjukkan gejala-gejala defisiensi seperti daun menguning (necrosisis), kering, dan akhirnya mati serta muncul bercak-bercak dan garis belang-belang pada daun.

c. Pertumbuhan terbaik ditunjukkan oleh tanaman yang diberi pelakuan pupuk N dan P.

d. Maka dari itu dapat diambil kesimpulan bahwa untuk tanaman jagung yang paling penting untuk pertumbuhan adalah pupuk N dan P.

4.2.Saran

Namun dalam praktikum ini belum dapat diketahui dosis pupuk yang tepat untuk pertumbuhan tanaman yang baik. Oleh karena itu disarakan untuk melakukan praktikum selanjutnya yang berhubungan dengan dosis pemberian pupuk yang tepat bagi pertumbuhan tanaman jagung. Yang bisa bermanfaat bagi adek-adek junior yang mengontrak matakulyah ini. Kami berharap agar di adakan praktek kunjungan di tempat-tempat tertentu untuk mengetahui efesiensi terhadap penggunaan pupuk.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Fungsi Unsur Hara. http://acehpedia.org/Fungsi_Unsur_Hara

Handiri. 2010. Ketersediaan Dan Siklus Hara Nitrogen Serta Cara Untuk Mempertahankannya. http://handiri.wordpress.com/2010/10/25/ketersediaan-dan-siklus-hara-nitrogen-serta-cara-untuk-mempertahankannya/

Lesman. 2010. Bahan Organik. http://lestarimandiri.org/id/pupuk-organik/92-pupuk-organik/156-bahan-organik.html

Ir. M.Si. Hermawati Tiur. 2008. Fotokopian Kuliah Budidaya Tanaman Pangan Utama “ Jagung (zea mays )”. Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Jambi.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sumber :

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul, Jalan KH. Wahid Hasyim 210 Palbapang Bantul 55713 Telp. 0274-367541

Anonimous. 2005. Jagung Manis (Sweet Corn). http://www.iptek.net.id/ind/teknologi_pangan/index.php?mnu=2&id=303

_________. 2009. Jagung. http://id.wikipedia.org/wiki/Jagung

_________. 2009. Pupuk Kandang. http://id.wikipedia.org/wiki/Pupuk_kandang

Decoteau, D. R.. 2000. Vegetable Crops. Prentice-Hall, Inc., New Jersey.

Hartatik, W., dan L. R. Widowati. 2009. Pupuk Kandang. http://balittanah.litbang.deptan.go.id/dokumentasi/buku/pupuk/pupuk4.pdf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar